Postingan

Merawat Harapan

Bahwa harapan dan kekecewaan layaknya cermin yang memantulkan bayangan, semakin besar harapan itu ditimbulkan maka semakin besar pantulan kekecewaan yang akan dipantulkannya dan sebaliknya harapan yang kecil akan memantulkan bayangan kekecewaan yang kecil juga

Hanya saja kehidupan adalah rangkaian harapan, setiap tarikan nafasnya berisi harapan demi harapan, didalamnya terdapat keinginan demi keinginan, sebagai tanda bahwa manusia terlahir dengan asa dan rasa yang dikaruniakan kepadanya

Tapi begitulah alurnya, kehidupan punya jalan yang ditempuhnya, rasa bisa berharap, namun jalan berbeda yang datang kepadanya, atau asa bisa saja berkata, justru yang dijalani bisa jadi sebaliknya

Namun harapan akan selalu ada, bisa jadi sekarang, esok, ataukah lusa ia menemukan jalannya, bisa jadi sama ataukah berbeda dengan keinginan yang menyertainya, teruslah merawat harapan, karena kita tidak akan pernah tahu dimana ia akan mengarah pada muaranya

(Ibnu Khairan)

Petatah Petitih Minang (bag 1)

Anak nalayan mambaok cangkua, mananam ubi ditanah darek. Baban sakoyan dapek dipikua, budi saketek taraso barek. (Beban yang berat dapat dipikul, tetapi budi sedikit terasa berat)
Anak ikan dimakan ikan, gadang ditabek anak tenggiri. Ameh bukan perakpun bukan, budi saketek rang haragoi. (Hubungan yang erat sesama manusia bukan karena emas dan perak, tetapi lebih diikat budi yang baik)
Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi. (Pengetahuan hanya didapat dengan berguru, kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi)
Alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati. (Sifat seseorang yang tegas bertindak atas kebenaran dengan penuh bijaksana)
Tarandam randam indak basah,

Ketetapan yang telah tersuratkan

Aku tahu perpisahan adalah jurang dari sebuah pertemuan
Pertemuan yang semua ku yakin telah digariskan
Pertemuan yang perlahan terajut menjadi kepingan-kepingan perjalanan

yang kemudian ia terangkai kedalam sebuah kenangan
yang terkadang ia berjalan bersama tumbuhnya harapan

Aku juga tau bahwa semua kisah akan disertai dengan akhir
akhir yang terbingkai dalam senyum tawa ataukah berujung pada luka dan airmata senyum tawa yang melabuhkan keinginan ataukah air mata yang mampu meluluh lantahkan harapan
namun itu semua itu telah berada pada suatu garis yang bernama ketetapan

Namun pengetahuan saja ternyata tidak cukup bahkan pemahaman pun tidak mampu untuk membantuku  ketika sesak itu sekali lagi dengan senyumannya datang menghampiriku Tetap kali ini aku memohon lagi pada waktu
Seberat apapun itu selalu saja waktu yang selalu berbaik hati membantuku
dan waktu yang secara perlahan mampu mengobati lukaku

Jika pertemuan adalah sebuah kemungkinan
dan perpisahan adalah keniscayaan 
harusnya kisah itu tidak mest…

Sama seperti yang lainnya

Sama seperti yang lainnya ku juga ingin memulai kisah itu
kisah yang harapannya akan menjadi kisah dengan kata ganti "kita"
kisah yang akan dilewati dengan tangis dan serta canda dan air mata

Sama seperti yang lainnya ku juga ingin memperjuangkannya
memperjuangkan sebagai bagian dari tanggung jawab yang kumiliki
memperjuangkan sebagai suatu hal yang ingin kuperjuangkan

Sama seperti yang lainnya ku juga melewati proses itu
Proses yang ingin dilewati semua orang untuk memulai kisah itu
Proses yang memulai untuk merajut semua kisah itu

dan jika jalan itu ada ia akan berjalan pada takdirnya

(Ibnu khairan)

Cermin Harapan

Harapan itu layaknya cermin. Ia mempunyai pantulan bernama kekecewaan, layaknya benda pada sebuah cermin, semakin besar harapan yang dimiliki, pantulan yang berupa kekecewaan juga akan semakin besar, dan sebaliknya, jika harapan itu kecil, maka pantulannya juga akan sebanding. Namun yang lebih penting bagaimana penyikapan atas semua pantulan-pantulan bayangan tersebut (Ibnu Khairan)

Pertemuan

Mungkin ini sebuah kisah bernama "pertemuan"
Pertemuan yang memiliki muara bernama "perpisahan"
Kisah ini mungkin bukan berbicara juga pada suatu kata "disatukan" atau juga bukan bersenandung untuk suatu nada bernama "impian" Sekali lagi, mungkin ini hanya kisah tentang "pertemuan" Namun, bagaimana cerita ini dibingkai dalam catatan "penerimaan" (Ibnu Khairan)