Postingan

Cermin Harapan

Harapan itu layaknya cermin. Ia mempunyai pantulan bernama kekecewaan, layaknya benda pada sebuah cermin, semakin besar harapan yang dimiliki, pantulan yang berupa kekecewaan juga akan semakin besar, dan sebaliknya, jika harapan itu kecil, maka pantulannya juga akan sebanding. Namun yang lebih penting bagaimana penyikapan atas semua pantulan-pantulan bayangan tersebut (Ibnu Khairan)

Pertemuan

Mungkin ini sebuah kisah bernama "pertemuan" Pertemuan yang memiliki muara bernama "perpisahan" Kisah ini mungkin bukan berbicara juga pada suatu kata "disatukan" atau juga bukan bersenandung untuk suatu nada bernama "impian" Sekali lagi, mungkin ini hanya kisah tentang "pertemuan" Namun, bagaimana cerita ini dibingkai dalam catatan "penerimaan" (Ibnu Khairan)

Karena Ia adalah kisah yang ingin kukenang

Adalah kepingan-kepingan itu yang pernah coba kuuntai, merangkainya satu persatu, menyusun bagian demi bagiannya,dan merajut tiap helaiannya. Adalah kisah itu yang coba kuceritakan, mengingat tiap kenangannya, mengisahkan tiap episodenya, merangkai tiap peristiwanya, dan meramu tiap jalan ceritanya Adalah ia cerita masa lalu, kisah yang tak akan pernah  bisa kuulang, ia adalah kenangan yang telah berlalu bersama waktu. Ia adalah rangkaian kata yang tak pernah bisa kuucap, rasa yang selalu kusimpan, dan harapan yang pernah kujaga. Dan ia adalah bagian dari hidupku, yang ingin kudekati, kurangkul, dan ia ingin kupeluk erat, karena ia adalah kisah yang ingin kutulis dalam bait-bait sajak yang masih bisa kulafazkan (Ibnu Khairan)

Kenangan dalam cerita itu

Buku itu, masih saja bercerita Tiap halaman, tiap lembar, tiap nomornya Ia hadir bagai hembusan angin yang tiba-tiba datang menyapa pepohonan Sejuk, Sepoi, ia datang menghembus dedaunan, hingga menggugurkan daun-daun yang telah lama mengering dipertengahan musim kemarau Daun itu satu-persatu berguguran kebumi, tidak banyak memang, tapi ia cukup menutupi halaman yang juga sedang tertutupi oleh rumput yang mengering Ini buku bercerita tentang apa? Buku lusuh yang sampul-nya sudah mulai memudar, kertasnya sudah tidak baru lagi, dan ada beberapa lempar yang sudah mulai lepas dari ikatannya, ia hanyalah buku yang berisi tentang cerita tentang seorang pemuda yang sedang belajar tentang arti kehidupan Jadi, apa yang ingin kita bicarakan saat ini? Entahlah, mungkin tokoh didalam cerita telah memberikan banyak pembelajaran, walau ini hanya cerita fiksi, namun ia adalah kisah yang telah banyak menginspirasi, kisah yang dengannya, mungkin banyak kisah-kisah lain yang telah tercipta. ...

Kesederhanaan jalan

Jalan ku tak pernah lurus Langkahku akan gontai Pundakku tak selalu kuat Hatiku kadang sering tak lurus Sifat ku jelas jauh dari sempurna Juangku jelas masih sangat lemah Semangatku tak jarang hilang Tubuhku tak bisa selalu bertahan Kekuatanku tak jarang lemah Pemahamanku lebih sering salah Ilmu ku tak ada apa-apanya dan Imanku masih sangat jauh Tapi Tak banyak hal yang ingin kuperbuat Ku hanya ingin belajar Belajar menjadi lebih Terus berproses setiap detiknya Berproses menjadi lebih baik Lebih baik setiap harinya Setiap saatnya dan Setiap momentnya Karena cukup sesederhana itu jalan yang ingin kutempuh dan sesederhana hal ini yang ingin kutunjukan kepadamu (Ibnu Khairan)

Rangkaian Kisah

Jika ia adalah rangkaian kata dengan makna Susunan makna yang terhubung mengajarkan hikmah Biarlah ia berjalan menurut apa yang digariskan padanya Bukan ingin memungkiri, apalagi menghindari tanpa ingin memaknai Rangkaian kisah ini telah menyusun episodenya, episode yang telah merangkaikan kejadian demi kejadian Sehingga menjalin sebuah cerita yang memberikan banyak pembelajaran Pelajaran yang semoga bisa kita kenang akan arti sebuah persahabatan, pertemuan, perpisahan, rindu, jarak, kesabaran, serta merelakan Jika ia adalah kisah demi kisah yang telah berjalan pada garisnya Biarlah ia menjadi sebuah kenangan yang berjalan pada waktunya (Ibnu Khairan)

Memeluk kenangan

Potongan-potongan puzzle kenangan itu bisa saja hadir, tersusun bagian per bagian, hadir tanpa bisa dicegah, yang datang bersama waktu Terkadang ia datang bagai gelombang, menerjang tanpa bisa dilawan, datang membawa cerita, cerita dahulu yang bernama kenangan, cerita yang membawa melintasi waktu, menerobos masa, mengingatkan pada kisah yang telah berlalu Kenangan itu datang, terkadang tanpa bisa dicegah, ia berputar dalam pikiran, bagai hanya ingin sekedar mengingatkan akan cerita itu, kisah masa lalu yang ingin terulang bagai bayangan semu. Namun begitulah kenangan itu menyapa, hanya sekedar bercerita, menyapa, kemudian pergi meninggalkan kenyataan yang sesungguhnya, tapi ia adalah bagian dari episode kehidupan, dan biarlah kenangan itu selalu tergenggam (Ibnu Khairan)